Tribratanews.papua.polri.go.id Polda Papua, Polres Jayawijaya, Wamena – Terkait issu yang beredar melalui media sosial tentang 139 orang pengungsi  Nduga yang meninggal dunia, Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya, SH, Dandim 1702/Jwy dan Tokoh Agama Pater Jhon Jonga menggelar konferensi pers di Cafe Alfa Omega, Jalan Yos Sudarso Wamena, Senin (22/07/2019) malam.

Dalam konferensi pers tersebut Pater Jhon Jonga menyampaikan bahwa dirinya dibingungkan dengan pertanyaan dari wartawan Jakarta terkait berita ini dan dirinya juga sudah diperintahkan oleh bapak Lukas (Gubernur Papua) untuk selidiki informasi yang telah didengar  ada 130, 139 dan 177, ini manusia dari mana sampai sebanyak itu.

“Saya tadi sore coba menghubungi teman-teman yang memberi tahu tentang 130 ini dapat dari mana dan laporan bagaimana, ada yang bilang itu liat dari Medsos saja, jadi ini menjadi kerja berat teman-teman wartawan dan juga bapak Kapolres, bapak Dandim dan tokoh gereja untuk mencari kebenaran dari tiga versi ini dan ini sangat berbahaya bagi kita karena ini bukan sedikit dan ini manusia,” ucap Pater Jhon Jonga.

Pater juga menambahkan berdasarkan hasil rapat dengan Gubernur pada bulan April bahwa Gubernur mau mengangkat dan menarik masalah Nduga ini menjadi masalah Provinsi bukan lagi oleh Pemda Nduga namun kami rasa menyesal itu sampai saat ini belum ada apa-apa dari Provinsi dan sekarang kami dengar Bupati sudah rapat dengan Bapenas di Jakarta.

“Dan cerita yang simpang siur ini muncul juga apakah dari Nduga ataupun melalui Medsos yang tidak jelas meninggalnya dimana, nama lengkap juga tidak ada ini yang kami sedang cari tau namanya, kena sakit apa, kubur dimana ini yang harus kita selidiki, paantau dan survei sama-sama,” imbuh Pater.

Sementara itu Kapolres Jayawijaya menjelaskan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan kepala suku besar Kabupaten Nduga Jek Andre Dimiye yang menyatakan bahwa bahwa dikenyam sendiri pada bulan Juli 2019 ada yang meninggal 7 orang meninggal dan itupun bukan pengungsi, sedangkan untuk 139 itu tidak benar dan tidak ada.

“Kami juga berkoordinasi dengan asisten Nduga dan beliau sempat kaget ini berita darimana karena tidak ada kejadian seperti itu dan untuk di daerah Kuyawage kami juga sudah koordinasi dengan Sekda Lanny Jaya dan Kepala Suku bahwa disana juga tidak ada yang meninggal dan hal-hal seperti ini merupakan publikasi dari elit separatis politik karena kami sudah buktikan dilapangan dengan berkoordinasi dengan berbagai instansi bahwa ini tidak benar,” jelas Kapolres.

Lanjut Kapolres mengenai fenomena sampai 130 ini kalau terjadi pasti akan menjadi fenomena besar sehingga dirinya didampingi oleh Dandim dan Pater menjelaskan bahwa kejadian tersebut tidak benar.

Hal senada juga disampaikan Dandim 1702/Jayawijaya yang menerangkan sejak berita awal beredarnya pengungsi Nduga yang meninggal pihaknya telah melaksanakan pengumpulan data dilapangan dengan melibatkan Koramil serta Polsek dan pasca pembantaian PT. Istaka karya terjadi pengungsian yang besar pada 3 titik yaitu di ibu kota Wamena Papua, Lanny Jaya di Koyawage dan ibukota Nduga di Kenyam.

“Hasil pengecekan kepada Sekda Lanny Jaya bahwa Sekda telah mengumpulkan Kepala Desa untuk mengecek bahwa kondisi masyarakat dalam keadaan aman serta ditegaskan oleh sekda Lanny Jaya bahwa Pemda Lanny Jaya turut memberikan bantuan bagi pengungsi di Lanny Jaya dan untuk di Kenyam,  dari Dinsos Kabupaten Nduga menyampaikan bahwa masyarakat wilayah Paro, Mapenduma dan Yigi dalam kondisi baik-baik dengan menempati rumah kosong dan bantuan mengalir sampai saat ini,” terang Dandim.

Damdim juga menegaskan pengecekan langsung di wilayah Jayawijaya telah mengecek kebenaran informasi tersebut apabila meninggalnya 130 orang yang akan menjadi fenomenal dan spektakuler serta sangat tidak mungkin karena  dalam periode Januari-Juli dengan jumlah kematian karena penyakit masih dalam jumlah yang wajar dan terkait dengan pengecekan jumlah yang sekian banyak diberitakan yaitu 130 orang telah mendapatkan informasi dari relawan serta para pengungsi bahwa mereka merasa nyaman di pengungsian dengan menempati rumah kosong dan bantuan mengalir terus menerus sehingga membuat pengungsi terus bertahan.

Penulis : Putu Denta

Editor   : Rey

Publish : Arya K

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here